Rintangan Mendaki Puncak Tertinggi Gunung Bukit Raya

 

 

Dtunjungresort.com – Tim Ekspedisi 7 Summits Indonesia in 100 Days yang anggotanya antara lain seperti mantan Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Mila Ayu Hariyanti, dan Tri Hardiyanto sudah sukses menginjakkan kaki di Gunung Bukit Raya. Karena Gunung Bukut Raya merupakan gunung yang tertinggi di Pulau Kalimantan maka mempunyai banyak pemandangan yang masih alami dan belum banyak diketahui orang-orang.

Sebagai juru bicara tim Ekspedisi 7 Summits Indonesia in 100 Days, Tri Hardiyanto mengungkapkan banyak hal menarik yang dapat diperbincangkan dari eksotika Gunung Bukit Raya. Salah satunya kepercayaan adat yang masih sangat melekat menyelimuti peradaban gunung tersebut.

“Kita bahkan bikin ritual dulu yang dipimpin mantir adat atau yang biasa disebut ‘pisur’ sebelum mendaki. Menurut kepercayaan setempat, ritual itu lebih kepada bentuk komunikasi agar perjalanan jadi lancar sampai kembali lagi,” kata Tri.

Gunung Bukit Raya terletak di kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Untuk dapat masuk pada kawasan tersebut dapat melewati akses jalan Desa Rantau Malam, Kalimantan Barat, tidak hanya itu dapat pula melewati Desa Tumbang Habangoi di Kalimantan Tengah. Bila kalian memilih melewati Desa Tumbang Habangoi dapat ditempuh selama 9 jam perjalanan dari pusat Kota Palangkaraya.

Tri mengatakan perjalanan dari desa Tumbang Habangoi menuju Bukit Raya sekarang ini hanya dapat diakses mengenakan kapal klotok. Selain itu, tim juga harus melewati atus sungai serta melalui banyak jeram supaya dapat tiba ke Teluk Selaung, setelah itu baru selanjutnya dapat melakukan pendakian ke Gunung Bukit Raya.

“Hutan Gunung Bukit Raya itu masih rapet banget, dibutuhkan kemampuan navigasi darat yang baik kalau mau sampai puncak gunung ini. Sampai puncak perlu enam hari, waktunya cukup alam karena memang karakteristik gunung ini yang naik turun, serta jaraknya yang jauh, melintas sungai berarus deras juga,” kata Tri.

Gunung Bukit Raya mempunyai dua puncak yakni Puncak Kakam yang merupakan puncak tertinggi serta Puncak Kait Bulan yang sedikit lebih rendah. Menurut kepercayaan masyarakat disana, dua puncak tersebut dianalogikan sebagai raja dan ratu yang selalu bersisian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *